Peresmikan BLK Komunitas Darul Dakwah Oleh Ibu Menaker Ida Fauziyah

Menaker Ida Fauziyah resmikan Balai Latihan Kerja (BLK) Komunitas pertama pada ahun 2020 ini, tepatnya di Pondok Pesantren Darul Dakwah, Desa Kedungmaling, Kecamatan Sooko.

Selain memenuhi peresmian gedung BLK Komunitas, Menaker juga memenuhi undangan dari Pondok Pesantren Darul Hikam dalam rangka Peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW yang digelar secara bersamaan.

“Kami resmikan pertama kali pembangunan BLK Komunitas tahun 2020. Rencananya tahun 2020 ini kami akan membangun 1.000 BLK Komunitas. Ini yang pertama kali selesai pembangunannya, bahkan sebenarnya belum semua uangnya ditransfer tetapi ternyata sudah selesai,” terang Menaker Ida Fauziyah kepada wartawan.

Menaker pun memberikan apresiasi yang luar biasa kepada pengasuh pesantren pondok Darul Dakwah yang telah menyelesaikan lebih cepat dari yang direncanakan.

“Selanjutnya, akan kami drop peralatan yang dibutuhkan sesuai dengan jurusannya. Kemudian akan mulai pelatihannya di tahun 2021. BLK Komunitas ini berbasis agama dan yang terbesar adalah pesantren. Kenapa Pesantren? Karena kami ingin memberikan tambahan peningkatan kompetensi kepada para santri yang selama ini memang berkonsentrasi kepada pengembangan ilmu agama Islam,” pungkas Ida Fauziyah.

Ida Fauziyah mengatakan agar tidak terjadi kesenjangan kompetensi maka kita bangun BLK-BLK Komunitas. BLK Komunitas ini adalah layanan pelatihan yang mendekat kepada komunitas. Jadi masyarakat yang ada di desa tidak perlu datang ke BLK yang rata-rata berada di Ibu Kota Provinsi.

“Jadi dengan mendekat ini akan lebih mempermudah masyarakat sekitar pesantren terutama santri untuk mendapatkan pelatihan untuk meningkatkan kompetensinya,” tutup Menaker Ida Fauziyah yang berasal dari Kedungmaling, Mojokerto.

Nampak hadir mendampingi Menaker, Dirjen Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas, Budi Hartawan; SesditjenPembinaan Pelatihan dan Produktivitas, Surya Lukita Warman; Plt. Direktur Penempatan Tenaga Kerja Dalam Negeri, Nora Kartika; KepalaBiro Humas, Soes Hindharno, dan Direktur Standarisasi Kompetensi, Muchtar Aziz